“Mas, Sandi!” seru bi Naimah mengetuk pintu sambil memanggil namaku.
Aku mengusap mataku yang terbangun dari tidur. Aku lirik jam wekerku, jam setengah dua pagi. Ada apa bi Naimah jam segini bangunin aku? Aku langsung beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu kamar.
“Ada apa, Bi?” tanyaku dengan suara berat.
Bi Naimah terlihat sangat panik, ”Aduh, Mas Sandi tolongin Mbak Angel, Mas!” pinta bi Naimah.
”Ada apa, Bi?”
”Aduh, Mbak Angelnya demam, Mas. Badannya panas, pucat,” ucap bi Naimah.
Aku langsung menuju kamar yang pintunya terbuka lebar. Di kamarnya, Angel terlihat menggigil hebat, badannya panas benget dengan butiran keringat di dahinya, ditambah lagi wajahnya yang sangat pucat. Poor you, Ngel!
”Angel, elo kenapa?” tanyaku sedikit panik.
”Kak Sandi....” ucapnya lirih tak terasa air matanya menetes.
”Elo kenapa sampai demam begini?” tanyaku lagi. Angel menggelengkan kepalanya.
“Bi Naimah, buatkan air hangat untuk kompres ya! Terus, ambilkan kotak P3K yang ada di ruang tengah!” suruhku pada bi Naimah.
“Iya, Mas.” Ucap bi Naimah kemudian meninggalkan aku dan Angel.
”Kak, thanks udah baik sama aku,” ucap Angel lirih.
”Iya, Ngel selama gue ada di sini lo yang tenang! Gue akan merawat lo,”
“Kak, maafin aku karena sudah banyak bikin Kak Sandi kesal.”
Aku tersenyum senang mendengar kata maaf dari mulut Angel, “Iya, kakak maafin kok.”
“Sekarang kamu yang tenang ya, sebentar lagi minum obat, biar mendingan.”
Angel menggenggam tanganku, ”Kak, sekali lagi maaafin aku ya!”
***
Hari ini, jam tujuh pagi aku sudah bersiap-siap untuk sekolah. Sudah hampir lima belas menit aku merapikan penampilanku. Bagiku, penampilan adalah yang utama karena orang lain akan menilai kita melalui penampilan pertama kali kita ketemu. Seusai merapikan rambut, aku keluar kamar. Ku lihat pintu kamar Angel terbuka lebar. Aku jadi ingat betapa paniknya aku semalam melihat keadaan Angel yang begitu mengkhawatirkan. Entah apa yang ada dipikiranku, aku melangkahkan kakiku menuju ke kamar Angel. Aku melongokkan kepalaku, kulihat di dalam kamar tak ada seorangpun di sana.
”Angel dimana?” pikirku.
”Mas, Sandi sarapannya sudah siap!!” teriak bi Naimah dari ruang makan membuyarkan pikiranku tentang keberadaan Angel.
Tanpa menjawab teriakan bi Naimah, aku langsung berjalan menuju ruang makan. Ku lihat telur mata sapi begitu bulat bertengger lezat di atas nasi goreng buatan bi Naimah. Aku mengambil posisi tepat di hadapan sarapan pagiku. Saat aku hendak memulai sarapan, mataku menangkap sebuah buku catatan berwarna pink tergeletak di atas meja makan. Tanpa tahu siapa pemiliknya, aku sudah mengetahuinya. Mataku menyisir ruang makan, kulihat tak ada Angel di sini. Hingga akhirnya, tanganku meraih buku tersebut.
”O ya, Mas Sandi, barusan mbak Angel sarapan dan katanya hari ini dia mau sekolah,” ”Sekolah? Memangnya Angel sudah sembuh total?” tanyaku heran.
”Tadinya, bibi juga berpikir begitu, Mas. Tapi, mbak Angel bilang kalau hari ini dia harus sekolah, katanya sih ada acara penting di sekolah. Kalo ndak salah mbak Angel ikutan lomba musik Mas, bi Naimah aja dijanjiin traktir kalo mbak Angel menang, katanya sih mau ditarktir makan bakso,”
”Angel ikutan acara musik? Maksudnya, lomba cipta lagu remaja? O ya? Gue baru tahu kalo tuh anak bisa bikin lagu,” kataku dalam hati.
Aku kembali mengalihkan perhatianku pada buku catatan atau lebih enaknya dibilang buku diary yang sudah berada di tanganku. Aku mulai membuka halaman pertamanya, kulihat tulisan Angel Fairy Diana terukir indah di sana. Hingga aku tergelitik untuk kembali membuka ke halaman berikutnya secara acak. Aku baru tahu, ternyata diary itu bukan berisi catatan harian seperti biasanya tapi, berisi kata-kata ”pujangga” yang Angel tulis. Sampai akhirnya, jariku berhenti di halaman terakhir.
”Aku tahu ini karma, sejak dulu aku takut akan datangnya karma. Hingga akhirnya hari ini aku menemui karmaku, karma dimana aku tak hanya ingin mencintai orang yang kubenci tapi, karma dimana aku juga ingin dia mencintai aku,”
***
Sekitar jam sepuluh pagi, auditorium sekolah begitu ramai. Hampir semua siswa SMA 29 Bandung memenuhi ruangan ini. Tak hanya siswa SMA 29, bahkan beberapa siswa dari SMA lain juga datang untuk menyaksikan final lomba cipta lagu remaja ini. Aku dan Denis celingukan saat memasuki auditorium sekolah ini. Mataku menyisir hampir semua ruangan auditorium untuk mencari tempat yang pas agar bisa menyaksikan penampilan para peserta lomba dengan leluasa. Kulihat ada deretan bangku kosong dekat panggung, aku menarik tangan Denis menuju tempat kosong tersebut.
Hampir satu jam lamanya beberapa peserta menyanyikan lagu ciptaannya. Selama perlombaan berlangsung, aku tak sabar untuk menyaksikan penampilan Angel. Bukan lantaran aoa-apa, aku tak sabar karena aku ingin menyaksikan ia bernyanyi, hal yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Sempat terpikir dibenakku, Angel akan membawakan lagu heavy metal, genre muik favoritnya.
”Oke itulah tadi finalis nomor tiga belas yang menyanyikan lagu ciptaannya yang berjudul Life, Love and Leave. Beri applause dulu dong, buat Reza Hendra dari SMA 14.” ucap Uyang yang menjadi host acara tersebut.
”Selanjutnya kita panggilkan peserta kita yang ke empat belas, Angel Fairy Diana yang berasal dari SMA 29, beri tepuk tangan dong buat Angel!” kata Dani.
”Angel?” aku langsung menolehkan kepalaku ke arah panggung. Kulihat Angel berjalan menghampiri Uyang dan Dani. Kalau aku perhatikan sekilas, wajah Angel masih sedikit pucat. Dasar Angel, aku jadi heran kenapa dia sengotot ini ikutan lomba ini!
”O ya, denger-denger katanya si Angel ini adalah peserta terakhir yang ikutan audisi semalam di cafe Dalton ya?” tanya Uyang.
”Yeps, bener banget!” kata Angel.
”Bisa diceritakan gak?” tanya Dani.
“Iya, gue adalah peserta terakhir yang ikutan audisi tadi malam, lucunya aku menuju tempat audisi kehujanan sampai-sampai saat performance di depan juri juga aku agak gemetaran,” jawab Angel.
“Wow, it’s great! Kenapa sampai bela-belain gitu, Ngel?” tanya Uyang.
”Karena aku ingin menyampaikan lagu ini pada juri,”
”Memangnya lagu ini tentang apa sih? Bisa diceritakan?”
”Lagu ini sebenarnya bukan ciptaan saya, lagu ini adalah lagu milik teman aku yang dinyanyikan oleh aku. Lagu ini menceritakan tentang keinginan seseorang yang ingin hidup bersama orang yang dicintainya untuk selamanya. Lagu ini juga meyakinkan seseorang tentang perasaan yang ia rasakan pada orang yang dicintainya dan berharap orang yang dicintainya tersebut menerima cintanya. Kalo boleh jujur, lagu ini juga menggambarkan tentang perasaanku pada temanku yang sudah menciptakan lagu ini,” kata Angel pajang lebar.
”Hahaha tuh cewek konyol banget deh! Jadi penasaran gue sama orang yang dia maksud,” komentarku saat mendengar jawaban Angel.
”Oh... sweet ya! Ya udah, kita sambut Angel Fairy Diana dengan lagunya yang berjudul Selamanya,” kata Uyang dan Dani bersamaan. Tepukan meriah mengiringi langkah kaki Angel menuju piano yang berdiri tepat di tengah-tengah panggung. Angel mulai menekan tuts piano yang ada dihadapannya dan mulai menyanyikan lagu yang ia bawakan. Kayaknya aku kenal deh sama lagu ini. Oh, God! Lagu ini benar-benar lagu ciptaanku!!! Dari mana Angel dapet lagu ini?
Sayangku, dapatkah kau merasakan
Betapa besarnya rasa cintaku untukmu
Cintaku, pernahkah kita menduga
Di antara kita ada rasa yang mendalam
Sayangku, yakinlah akan cintaku
Yang kupersembahkan seutuhnya untukmu
Oh... Kasihku, jangan pernah kau ragukan
Luasnya cintaku yang kuberi untukmu
Oh... genggamlah tanganku ini sayang
Cintaku tlah tertambat mati untukmu
Selamanya... hanya dirimu yang selalu ada dalam hatiku
Selamanya... tentang dirimu kau selalu hadir dalam mimpiku
Engkau satu cintaku selamanya...