Apa yang aku rasakan ini bukan hanya aku,tapi juga kamu :)

Senin, 25 Maret 2013

Perfect Man


perfect man
is there? if there is I want to study him.
I found a lot when I lived here,
I find good and bad of life here,
oh yea, is there a perfect human dictionary?
if I wanted to buy it,
haha, stupid or really stupid I do not know about all that.
I seem to want to imitate someone else's style, famous people may
but, yesterday I think,
if I'm imitating someone else's style I would definitely scorn of many.
what am I then?
I may not be out of the room, and maybe I could be dying, or dead.
huh ...
it was nothing beautiful world,
any person, whether it's my friend, my best friend, my family, or people I've just met are always complaining about the weight of sustaining life on earth.
but, some people also said that he saw the beauty of this world. Did you ever mendangar person speaks? or watch the story of his life?
I think some of you have.

every man might be perfect, as perfect as possible even if I could.
yea, definitely with the help of others.
What do you know about the help from others?
the people that you care about and hostile.
I hope no grudges among you.

so, is there a perfect man?
haha, find out for yourself only.

http://hcs19.tumblr.com/
Read More

Forever Love (part 4)


            Jam dua siang, aku merebahkan tubuhku di sofa ruang tamu. Hampir setengah jam aku membanting tubuhku di ata sofa ini. Tak seperti biasanya aku nongkrong di ruang tamu seperti halnya siang ini. Ya, tak seperti biasanya. Aku menunggu seseorang datang ke rumah ini. Siapa lagi kalo bukan Angel. Sejak pulang sekolah, aku sudah menunggu dia tiba di rumah. Aku menunggunya bukan tanpa alasan, aku ingin memarahi dia karena menyanyikan lagu ciptaanku tanpa izin.





      Seseorang membuka pintu rumah seraya menyapaku, ”Eh, Kak Sandi. Lagi apa?” tanyanya sambil memberi senyuman.

      Aku mencoba bangkit dari sofa kemudian mendekatinya, ”Gak usah basa-basi deh, lo!”





      Angel mengerutkan keningnya, ”Maksud Kakak apa?”

      ”Heh, elo ikut LCLR pake lagu gue kan? Apa maksud lo?”

      ”Kak, Sandi aku bisa jelasin semuanya,”

      ”Apa? Elo mau ngejelasin apalagi, Ngel?”

      ”Kak, please dengerin penjelasanku dulu!”

      ”Gue gak butuh penjelasan lo lagi, Ngel! Penjelasan lo gak akan bisa meredam emosi gue, inget itu!” seruku sambil menatap matanya yang mulai bersinar sendu.

      ”Tapi, Kak aku hanya ingin kakak tahu mengapa aku bawain lagu Kakak,”





      ”Terserah elo mau ngomong apa! Mulai dari sekarang, jangan pernah gue akan baik sama lo!” ucapku kemudian meninggalkannya terpaku di ruang tamu.





      “Satu hal yang harus Kak Sandi tahu,” ucapnya menghentikan langkahku di atas tangga. Aku diam tak menoleh padanya.

      “Nanti malam, pukul delapan, aku ingin Kak Sandi datang ke Purple Cafe, jika Kakak ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku harap Kakak bersedia untuk datang,” lanjut Angel dengan suara yang berat karena menahan tangisnya.



***



      Malam harinya, aku sedang menonton TV di ruang tengah. Seperti malam sebelumnya, malam ini sepi, benar-benar sepi. Riko dan Keysa masih belum dateng dari Medan sedangkan Angel, ia pergi sejam yang lalu menuju ke Purple cafe. Sebelum berangkat, dia menyuruhku untuk menemuinya di cafe tersebut tapi, sepertinya itu tidak begitu penting bagiku karena apapun penjelasan yang akan ia katakan nanti tak akan bisa merubah dan meredam rasa kesalku yang semakin berkecamuk ini.





      Untuk mengisi waktu luangku, sejak sore tadi, aku menikmati tayangan TV yang sangat membosankan. Tak ada tayangan TV yang benar-benar bisa menghiburku. Sesekali aku kembali mengubah chanel TV, lagi-lagi hanya sederetan sinetron yang menghiasi layar kaca. Kalo ngomongin sinetron, aku jadi inget pada keluargaku di Surabaya. Biasanya, sekitar jam enam sore hingga sepuluh malam, Oma, Mama dan adik perempuanku standby di depan TV untuk menonton sinetron yang menurutku sangat membosankan bahkan membuat aku emosi karena akting pemainnya ”gak banget”. Lah, kenapa jadi ngomongin sinetron ya?! Hehehe back to my story...

      “Krriinngg!!!” telepon wireless berbunyi.

      Aku segera meraih telepon genggam yang ada di dekat sofa tempatku duduk.

      “Halo!” sapaku.

      “Hei, San! Apa kabar lo? Baik-baik aja kan?”

      “Eh, elo, Rik! Kalo dibilang baik sih nggak, kalo dibilang buruk agak sih, elo?”

      “Gue happy, sob! Kenapa? Lo ada masalah lagi sama Angel?”

      “Kok tahu?” tanyaku sambil mengerutkan kening.

      “Ya iyalah, gue tadi liat infotainment terus ada gossip lo sama Angel muncul, ya udah gue pantengin aja tuh TV sampe gossip lo abis. Emangnya elo ada apa lagi sih sama Angel?”

      “Hahaha gokil, lo!” responku, lumayan bisa terhibur setelah hampir seharian emosi.

      “Lah, malah ketawa.” Ucap Riko heran, “San, kayaknya elo tuh memang udah waktunya deh baikan sama Angel, kasihan dia. Kalo gak ada lo, siapa yang jaga dia? Kalo elo juga marahan sama dia, otomatis elo kan gak bisa jagain dia?”

      “Baikan? Enak bener lo bilang baikan, elo sih enak gak punya masalah sama dia. Gue? Gue udah banyak banget masalah sama dia termasuk yang terakhir ini nih, dia bawain lagu gue di LCLR,”

      “Oya? Jadi, dia bawain lagu lo, San?”

      “Iya, emang kenapa?”

      “Hahaha gak pa-pa. O ya
Read More

Forever Love (part 3)


            “Mas, Sandi!” seru bi Naimah mengetuk pintu sambil memanggil namaku.

            Aku mengusap mataku yang terbangun dari tidur. Aku lirik jam wekerku, jam setengah dua pagi. Ada apa bi Naimah jam segini bangunin aku? Aku langsung beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu kamar.

            “Ada apa, Bi?” tanyaku dengan suara berat.



            Bi Naimah terlihat sangat panik, ”Aduh, Mas Sandi tolongin Mbak Angel, Mas!” pinta bi Naimah.

            ”Ada apa, Bi?”

            ”Aduh, Mbak Angelnya demam, Mas. Badannya panas, pucat,” ucap bi Naimah.

            Aku langsung menuju kamar yang pintunya terbuka lebar. Di kamarnya, Angel terlihat menggigil hebat, badannya panas benget dengan butiran keringat di dahinya, ditambah lagi wajahnya yang sangat pucat. Poor you, Ngel!



            ”Angel, elo kenapa?” tanyaku sedikit panik.

            ”Kak Sandi....” ucapnya lirih tak terasa air matanya menetes.

            ”Elo kenapa sampai demam begini?” tanyaku lagi. Angel menggelengkan kepalanya.

            “Bi Naimah, buatkan air hangat untuk kompres ya! Terus, ambilkan kotak P3K yang ada di ruang tengah!” suruhku pada bi Naimah.





            “Iya, Mas.” Ucap bi Naimah kemudian meninggalkan aku dan Angel.

            ”Kak, thanks udah baik sama aku,” ucap Angel lirih.

            ”Iya, Ngel selama gue ada di sini lo yang tenang! Gue akan merawat lo,”

            “Kak, maafin aku karena sudah banyak bikin Kak Sandi kesal.”

            Aku tersenyum senang mendengar kata maaf dari mulut Angel, “Iya, kakak maafin kok.”

            “Sekarang kamu yang tenang ya, sebentar lagi minum obat, biar mendingan.”

            Angel menggenggam tanganku, ”Kak, sekali lagi maaafin aku ya!”



***



            Hari ini, jam tujuh pagi aku sudah bersiap-siap untuk sekolah. Sudah hampir lima belas menit aku merapikan penampilanku. Bagiku, penampilan adalah yang utama karena orang lain akan menilai kita melalui penampilan pertama kali kita ketemu. Seusai merapikan rambut, aku keluar kamar. Ku lihat pintu kamar Angel terbuka lebar. Aku jadi ingat betapa paniknya aku semalam melihat keadaan Angel yang begitu mengkhawatirkan. Entah apa yang ada dipikiranku, aku melangkahkan kakiku menuju ke kamar Angel. Aku melongokkan kepalaku, kulihat di dalam kamar tak ada seorangpun di sana.





            ”Angel dimana?” pikirku.

            ”Mas, Sandi sarapannya sudah siap!!” teriak bi Naimah dari ruang makan membuyarkan pikiranku tentang keberadaan Angel.

            Tanpa menjawab teriakan bi Naimah, aku langsung berjalan menuju ruang makan. Ku lihat telur mata sapi begitu bulat bertengger lezat di atas nasi goreng buatan bi Naimah. Aku mengambil posisi tepat di hadapan sarapan pagiku. Saat aku hendak memulai sarapan, mataku menangkap sebuah buku catatan berwarna pink tergeletak di atas meja makan. Tanpa tahu siapa pemiliknya, aku sudah mengetahuinya. Mataku menyisir ruang makan, kulihat tak ada Angel di sini. Hingga akhirnya, tanganku meraih buku tersebut.

            ”O ya, Mas Sandi, barusan mbak Angel sarapan dan katanya hari ini dia mau sekolah,”      ”Sekolah? Memangnya Angel sudah sembuh total?” tanyaku heran.





            ”Tadinya, bibi juga berpikir begitu, Mas. Tapi, mbak Angel bilang kalau hari ini dia harus sekolah, katanya sih ada acara penting di sekolah. Kalo ndak salah mbak Angel ikutan lomba musik Mas, bi Naimah aja dijanjiin traktir kalo mbak Angel menang, katanya sih mau ditarktir makan bakso,”

            ”Angel ikutan acara musik? Maksudnya, lomba cipta lagu remaja? O ya? Gue baru tahu kalo tuh anak bisa bikin lagu,” kataku dalam hati.





            Aku kembali mengalihkan perhatianku pada buku catatan atau lebih enaknya dibilang buku diary yang sudah berada di tanganku. Aku mulai membuka halaman pertamanya, kulihat tulisan  Angel Fairy Diana terukir indah di sana. Hingga aku tergelitik untuk kembali membuka ke halaman berikutnya secara acak. Aku baru tahu, ternyata diary itu bukan berisi catatan harian seperti biasanya tapi, berisi kata-kata ”pujangga” yang Angel tulis. Sampai akhirnya, jariku berhenti di halaman terakhir.

                ”Aku tahu ini karma, sejak dulu aku takut akan datangnya karma. Hingga akhirnya hari ini aku menemui karmaku, karma dimana aku tak hanya ingin mencintai orang yang kubenci tapi, karma dimana aku juga ingin dia mencintai aku,”



***



            Sekitar jam sepuluh pagi, auditorium sekolah begitu ramai. Hampir semua siswa SMA 29 Bandung memenuhi ruangan ini. Tak hanya siswa SMA 29,  bahkan beberapa siswa dari SMA lain juga datang untuk menyaksikan final lomba cipta lagu remaja ini. Aku dan Denis celingukan saat memasuki auditorium sekolah ini. Mataku menyisir hampir semua ruangan auditorium untuk mencari tempat yang pas agar bisa menyaksikan penampilan para peserta lomba dengan leluasa. Kulihat ada deretan bangku kosong dekat panggung, aku menarik tangan Denis menuju tempat kosong tersebut.





            Hampir satu jam lamanya beberapa peserta menyanyikan lagu ciptaannya. Selama perlombaan berlangsung, aku tak sabar untuk menyaksikan penampilan Angel. Bukan lantaran aoa-apa, aku tak sabar karena aku ingin menyaksikan ia bernyanyi, hal yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Sempat terpikir dibenakku, Angel akan membawakan lagu heavy metal, genre muik favoritnya.





            ”Oke itulah tadi finalis nomor tiga belas yang menyanyikan lagu ciptaannya yang berjudul Life, Love and Leave. Beri applause dulu dong, buat Reza Hendra dari SMA 14.” ucap Uyang yang menjadi host acara tersebut.





            ”Selanjutnya kita panggilkan peserta kita yang ke empat belas, Angel Fairy Diana yang berasal dari SMA 29, beri tepuk tangan dong buat Angel!” kata Dani.

            ”Angel?” aku langsung menolehkan kepalaku ke arah panggung. Kulihat Angel berjalan menghampiri Uyang dan Dani. Kalau aku perhatikan sekilas, wajah Angel masih sedikit pucat. Dasar Angel, aku jadi heran kenapa dia sengotot ini ikutan lomba ini!

            ”O ya, denger-denger katanya si Angel ini adalah peserta terakhir yang ikutan audisi semalam di cafe Dalton ya?” tanya Uyang.

            ”Yeps, bener banget!” kata Angel.

            ”Bisa diceritakan gak?” tanya Dani.





            “Iya, gue adalah peserta terakhir yang ikutan audisi tadi malam, lucunya aku menuju tempat audisi kehujanan sampai-sampai saat performance di depan juri juga aku agak gemetaran,” jawab Angel.

            “Wow, it’s great! Kenapa sampai bela-belain gitu, Ngel?” tanya Uyang.

            ”Karena aku ingin menyampaikan lagu ini pada juri,”

            ”Memangnya lagu ini tentang apa sih? Bisa diceritakan?”





            ”Lagu ini sebenarnya bukan ciptaan saya, lagu ini adalah lagu milik teman aku yang dinyanyikan oleh aku. Lagu ini menceritakan tentang keinginan seseorang yang ingin hidup bersama orang yang dicintainya untuk selamanya. Lagu ini juga meyakinkan seseorang tentang perasaan yang ia rasakan pada orang yang dicintainya dan berharap orang yang dicintainya tersebut menerima cintanya. Kalo boleh jujur, lagu ini juga menggambarkan tentang perasaanku pada temanku yang sudah menciptakan lagu ini,” kata Angel pajang lebar.

            ”Hahaha tuh cewek konyol banget deh! Jadi penasaran gue sama orang yang dia maksud,” komentarku saat mendengar jawaban Angel.





            ”Oh... sweet ya! Ya udah, kita sambut Angel Fairy Diana dengan lagunya yang berjudul Selamanya,” kata Uyang dan Dani bersamaan. Tepukan meriah mengiringi langkah kaki Angel menuju piano yang berdiri tepat di tengah-tengah panggung. Angel mulai menekan tuts piano yang ada dihadapannya dan mulai menyanyikan lagu yang ia bawakan. Kayaknya aku kenal deh sama lagu ini. Oh, God! Lagu ini benar-benar lagu ciptaanku!!! Dari mana Angel dapet lagu ini?



    Sayangku, dapatkah kau merasakan

    Betapa besarnya rasa cintaku untukmu

    Cintaku, pernahkah kita menduga

    Di antara kita ada rasa yang mendalam



    Sayangku, yakinlah akan cintaku

    Yang kupersembahkan seutuhnya untukmu

    Oh... Kasihku, jangan pernah kau ragukan

    Luasnya cintaku yang kuberi untukmu



    Oh... genggamlah tanganku ini sayang

    Cintaku tlah tertambat mati untukmu



    Selamanya... hanya dirimu yang selalu ada dalam hatiku

    Selamanya... tentang dirimu kau selalu hadir dalam mimpiku

                Engkau satu cintaku selamanya...

Read More

Forever Love (part 2)


            Lima belas menit sebelum berangkat, aku sarapan pagi di ruang makan bersama Riko. Pagi itu, suasana ruang makan itu tak seramai biasanya. Hanya ada aku dan Riko yang sibuk menyantap sarapan pagi hari ini.



            ”Keysa mana, Rik? Gak masuk hari ini?” tanyaku di sela-sela acara sarapan.

            “Oh....” kata Riko sambil berusaha mengunyah nasi yang memenuhi mulutnya agar leluasa untuk bersuara, “Keysa udah berangkat tadi pagi, katanya sih mau ngeberesin PR-nya,”



            “Oh....” ucapku sambil menggangguk lalu meneruskan memakan nasi goreng yang ada di hadapanku.

            Riko memperhatikanku, “Kok gak tanya si Angel?”

            ”Buat apa tanya tuh cewek?”

            ” Hahaha, uhuk... uhuk... uhuk....” Riko tertawa lebar lalu tersedak.

            Aku tersenyum senang melihat Riko tersedak, ”Syukurin lo!”

            ”Eh, kenapa sih lo gak suka banget sama si Angel?” tanya Riko setelah meminum air putih.

            ”Masa dari dulu elo gak ngerti sih, Rik? Elo udah lupa dengan kejadian di acara ulang tahun si Renata? Atau elo juga sudah lupa dengan tragedi 27 November?” jawabku mengingatkan Riko pada momment yang gak pantas untuk diingat dengan Angel, si dark Angel!!!





            “Iya, gue tahu itu San. Tapi, apa sulitnya sih memaafkan Angel? Bayangkan aja, sekarang elo tinggal satu rumah dengan dia, otomatis elo ketemu dengan si Angel tiap waktu. Belum lagi kamar lo bersebelahan dengan dia, masa elo gak mau berdamai sama dia?”

            “Gak ada kata damai buat gue dan dia. Sekali benci gue tetep benci sama tuh cewek,”

            “Hahaha hati-hati, kata orang benci awal dari cinta,”

            “Tapi, buat gue benci adalah awal dari perang dunia,” jawabku cuek.

            “Terserah lo deh,”





            “O ya, besok gue bakal ke rumah nenek gue di Medan, mungkin gue di sana sekitar seminggu,” Riko mengalohkan pembicaraan.

            “Keysa juga ikut?”

            “Iya, mungkin nanti malam gue dan Keysa udah berangkat ke Medan. So, lo jaga rumah ini ya! Jangan sampe ada barang-barang yang hilang,”

            “Iya, gue akan haga rumah ini baik-baik. Santai aja,”

            “Satu lagi, gue titip Angel juga,” tambah Riko sambil mengangkat piring dari meja lalu beranjak menuju dapur.

            “Kalo Angel gue gak janji deh!” seruku.







***



            Malam ini benar-benar sepi tak seperti biasanya. Aku tak lagi mendengar suara keras dari Riko dan Keysa yang selalu saling ejek setiap kali kami berempat (termasuk Angel), menonton DVD atau televisi bersama. Riko dan Keysa sudah pergi menuju bandara sejam yang lalu. Belum lagi hujan lebat yang turun sejak setengah jam yang lalu, benar-benar membuatku kesepian. Meski di rumah ini hanya tinggal aku, Angel dan bi Naimah tapi sama saja rumah ini sepi. Apalagi hubunganku dengan Angel yang tak rukun, yang semakin membuatku merasa hanya tinggal sendiri di rumah ini. Di tengah derasnya hujan yang turun itu, aku menyalakan laptop sambil mendengarkan lagu-lagu ciptaanku. Ingin rasanya aku mengupload ke internet tapi, aku takut banyak pihak yang mengklaim lagu ciptaanku menjadi lagu mereka.





            ”Tteett!!! Tteett!!!” bel rumah berbunyi.

            ”Bi naimah, ada tamu!!!” teriakku.

            Beberapa saat kemudian bel rumah kembali berbunyi, sepertinya bi Naimah tak juga membuka pintu rumah.

            ”Bi Naimah ke mana sih?” ujarku sambil bangkit keluar kamar membuka pintu rumah.

            ”Ttteett!!!” bel rumah kembali berbunyi.

            Aku segera membukakan pintu rumah. Betapa kagetnya aku saat aku tahu siapa seseorang yang sejak tadi memencet bel rumah itu. Ternyata orang tersebut adalah Angel, cewek yang bagiku sangat menyebalkan. Kulihat Angel menggigil kedinginan dan badannya basah kuyup. Ada apa dengan Angel?





            ”Elo?”

            Angel berlari menuju kamar mandi. Aku sesegera mungkin menyusulnya tapi, Angel sudah masuk ke dalam kamar mandi.

            ”Ngel, elo gak pa-pa kan?” tanyaku dari balik pintu kamar mandi.

            ”Gue gak pa-pa,”

            ”Ya udah, abis ini gue tunggu lo di ruang makan,” ucapku.





            Setelah itu aku menuju dapur untuk membuatkan Angel teh hangat. Aku jadi ingat pada mamaku yang selalu membuatkan aku teh hangat bila aku kehujanan atau sedang kedinginan. Selama di dapur, pikiranku selalu teralihkan pada Angel. Entah kenapa aku tak tega melihat cewek mungil itu kedinginan dan basah kuyup seperti itu. Tapi, jujur aku akui aku masih sedikit sebal jika mengingat perbuatan tak menyenangkan yang banyak ia lakukan padaku. Mulai dari ia mengejekku kampungan di depan teman-teman Renata saat ulang tahun Renata beberapa bulan yang lalu dan kejadian 27 November di mana Angel benar-benar mempermalukan aku lagi di depan teman-teman sekolahku karena ia tak terima aku mengejek Sintia – sahabatnya – padahal si Sintia dulu tuh yang mulai. Aku gak akan bisa melupakan kejadian menyebalkan itu. Sungguh.





            Eh, ngomong-ngomong bi Naimah kemana sih? Dari tadi aku cari gak ada di rumah. Seusai membuat teh hangat, aku duduk di ruang makan. Aku memandangi roti tawar dan selai yang ada di atas meja. Aku menoleh ke arah jam dinding yang berada di atas kulkas, jarum panjang menunjuk ke angka enam dan jarum pendek menunjuk ke angka sepuluh. Sudah hampir lima belas menit Angel tak menampakkan dirinya sejak masuk ke dalam rumah. Tak lama berselang, Angel datang menemuiku di ruang makan. Rambutnya masih basah, ia juga terlihat lucu dengan menggunakan baju tidur. Meski sudah hampir setahun aku tinggal dengan dia, baru kali ini aku melihat Angel memakai pakaian seperti itu.





            Aku tersenyum melihat penampilannya itu.

            Angel menatapku heran, “Kenapa? Ada yang salah?”

            “Nggak kok. Ayo duduk!”

            Angel mengambil posisi tepat di depanku, “Ada apa lo nyuruh gue ke sini?”

            “Gue cuma mau tanya, elo dari mana aja sampe basah kuyup seperti tadi?”

            “Heh, ngapain lo nanyain hal ini? Udah mulai peduli sama gue, lo?”

            Aku terheran-geran mendengar jawabannya, “Hei, Dark Angel! Selama lo masih ada di rumah ini, gue punya tanggung jawab buat ngejaga lo meski gue jujur gak suka sama lo! Kalo aja Riko gak nyuruh gue untuk ngejaga lo, mungkin gue udah ngebiarin lo!”





            ”Jangan ngeles deh lo!” katanya lalu memberi senyuman sinis.

            ”Heh, Ngel sejak ngeliat lo kedinginan dan basah kuyup, gue udah mulai bersimpati pada lo tapi, setelah gue tahu ternyata elo emang keras kepala rasa simpati itu udah hilang! Gue heran kenapa sih elo tuh suka bikin gue kesal?”





            ”Itu semua gue lakukan karena elo duluan yang mulai,”

            ”Gue???”

            ”Iya, elo yang mulai! Gara-gara lo, persahabatan antara gue, Nindy dan Lia hancur!”

            “Apa? Gara-gara gue? Apa hubungannya dengan gue?”

            “Kalo boleh jujur, sejak gue masuk sekolah lo, persahabatan kita mulai merenggang karena Nindy dan Lia sama-sama naksir lo, sejak saat itu gue mulai benci sama lo!”





            “Kenapa lo nyalahin gue? Seharusnya elo nyalahin kedua sahabat lo yang gak bisa menyelesaikan masalah ini. Satu lagi, elo sama dengan kedua sahabat lo, cemen. Cemen karena bisanya nyari kambing hitam aja sebagai sumber masalah.”

            ”Stop! Gue gak mau ribut lagi dengan lo!”

            “Beruntung lo masih cewek, kalo nggak, jangan harap lo bisa melihat dunia lagi!” seruku kemudian berlalu meninggalkan Angel.
Read More

Forever Love (part 1)


Pagi menjelang. Titik-titik embun masih menempel lekat di kaca jendela kamarku. Udara yang begitu dingin memeluk erat tubuh ini. Rasaya aku ingin tetap berada di balik selimut ini untuk mengindari dinginnya udara pagi ini. Jujur, aku memang paling tidak suka dengan bangun pagi, terlebih saat weekend ingin rasanya seharian aku menghabiskan waktuku di dalam kamar.



            Pagi ini aku terbangun bukan karena jam wekerku berbunyi atau bukan karena bibi Naimah membangunkanku tapi, aku terbangun saaat lagu heavy metal terdengar nyaring dari kamar sebelah. Sejak beberapa hari ini, lagu-lagu heavy metal itu sering membangunkanku bahkan juga sering mengganggu waktu luangku yang sebagian besar aku gunakan untuk menciptakan lagu. Ya, aku memiliki hobi untuk menciptakan lagu.



            O ya, kenalin namaku Sandi, aku baru duduk di kelas XII SMA. Aku adalah anak ke tiga dari tiga bersaudara. Orangtuaku tinggal di Surabaya, sedangkan aku, tinggal di Bandung lebih tepatnya nge-kost di rumah temen papaku, Om Herman. Awalnya aku gak mau ngekost di rumah ini tapi, setelah dipikir-pikir ada enaknya juga, selain Riko – anak sulung Om Herman – umurnya sepantaran denganku, Riko juga satu sekolah denganku.



***



            Kusibakkan selimut yang menindih tubuhku semalam ini. Aku mengusap mataku beberapa kali untuk memperjelas penglihatanku. Lalu, aku melangkahkan kakiku yang begitu berat meninggalkan kamar tidurku. Aku keluar kamar tidur bukan untuk mencuci muka atau apa, tapi aku ingin memperingati orang sialan yang ada di sebelah kamarku. Ya, aku ingin memeberi peringatan untuknya agar tak lagi memutar lagu heavy metal di pagi-pagi seperti ini. Bukannya aku gak suka sama aliran lagu ini tapi, siapa sih yang gak terganggu kalo enak-enak tidur lalu ada yang muter lagu heavy metal dengan volume yang begitu kencang?



            ”Berrkk!!! Berrkk!!! Berrkk!!!” aku mengetuk pintu kamar dengan keras.

            Setelah aku tunggu beberapa saat, tak ada reaksi dari dalam kamar, lalu aku kembali mengetuk pintu itu dengan keras namun  masih saja tak ada tanggapan. Hingga akahirnya, aku mencoba menekan ganggang pintu dan rupanya pintu tak terkunci. Tanpa permisi aku langsung membuka pintu itu dan masuk ke dalam kamar tersebut. Gila deh. Begitu masuk telingaku benar-benar tak kuat dengan suara lagu heavy metal yang begitu nyaring itu. Di dalam kamar, tak ada seorang pun berada di sana, sehingga aku leluasa untuk mematikan tape recorder yang ada di pojok kamar tersebut. Sambil memperhatikan isi kamar, aku berjalan menuju tape recorder itu berada. Aku benar-benar heran, dengan wall paper dan pernak-pernik kamar yang serba pink dan girly abis, kok bisa-bisanya sih pemilik kamar ini suka dengan lagu heavy metal. Heran : mode on.

            ”Heh, ngapain lo di kamar gue? Mau maling lo?” tuduh seorang cewek berdiri di pintu kamar sambil membawa semangkuk mie rebus.

            Aku yang kaget langsung menoleh ke arah cewek tersebut. Aku langsung memasang tampang dingin padanya.

            Cewek itu mengalihkan pandangannya pada tape recorder yang ada di sebelahku, ”Jadi elo yang mematikan tape recorder gue?” tanyanya agak emosi lalu masuk ke dalam kamar menghampiriku.

            ”Iya, gara-gara musik lo yang kampungan itu, pagi-pagi gini gue udah bangun. Gue ingetin ya, sekali lagi lo muter lagu sekenceng-kencengnya kayak pagi ini, gue gak akan segan-segan ngehancurin tape recorder lo!” ancamku.



            “Oya? Berani lo?”

            “Jangan pikir gue takut sama lo!” jawabku dingin kemudian berjalan meninggalkannya.

            Aku menghentikan langkahku saat akan keluar dari pintu kamarnya, ”Satu lagi, jangan pernah update status yang isinya nyinggung ataupun ngejelek-jelekin gue lagi, kalo elo ngulang sekali lagi, liat aja ntar siapa yang akan lebih malu.” ancamku lagi.



            Cewek itu menganga heran, ”Dari mana lo tahu semua itu?”

            ”Heh... itu gak penting! Yang penting gue udah ngingetin lo dan lo harus inget pesan gue itu!” kataku kemudian berjalan keluar dari kamarnya.
Read More

Mudik Lahir Batin


Pagi. Cuaca yang tidak menentu. Kadang panas, kadang hujan, kadang juga hujan panas. Setidak menentunya perasaanku.
"Hantar aku ke terminal ya?" Pintanya padaku setelah duduk menyamping di jok belakangku. Aku tidak menjawab, hanya perlahan langsung menarik gas sepeda motorku.
Hari ini ia memang akan mudik untuk berlebaran di kampung halamannya. Selain yang kupakai, sebuah helm warna hitam masih menggantung di depan selangkanganku.
"Sini helmnya nanti ada razia" pintanya lagi
"Ah ndak perlu"
"Kalau kena razia gimana?"
"Aku lengkap. Sim ada, es-te-en-ka ada. Fungsi helm apa? Untuk pengaman kan?" Aku balik bertanya.
"Lagian ini bukan helm standard. Jilbabmu lebih memenuhi standard keamanan dari pada sekedar helm ini". Tambahku.
Aku memang tidak mudah percaya pada penampilan. Jilbab memang bukan standard bahwa dia perempuan yang baik. Apalagi setelah iseng aku pernah melihat bajakan paparazi "Lombok Membara". Ditambah lagi cerita pengalaman teman-temanku tentang kedok oknum perempuan di balik jilbab. Dan pengalamanku sendiri ketika suatu saat temanku kehilangan Handphone, ternyata yang mengambilnya gadis berjilbab.
Tapi jilbabnya, (Jilbabmu ...) sungguh menunjukkan standard keamanan tersendiri. Bahkan aku pun merasa aman berada dl dekatmu.
"Udahlah, sini helmnya dari pada nanti jadi masalah dengan polisi, lebih baik kan tidak jadi masalah". Pintanya agak memaksa.
"Ini. Sorry ya, tangan kiri".
Motor pun terus menderu, berpacu diantara panas bedengkang diselingi gerimisnya Kota Wonosobo Meriang di badanku sirna dihempas gelora jiwaku.
***
Sengaja aku tidak memacu kencang kendaraanku siang ini agar bisa lebih banyak ngobrol. Bak roda motorku, otakku terus berputar mencari bahan perbincangan agar tidak terasa jenuh dan kikuk. Diam-diam batinku memohon. Mudah-mudahan kali ini di jembatan tol merdeka macet.
"Gimana sih rasanya lebaran di kampung?"
"Asyiklah. Kumpul dengan keluarga. Penuh canda tawa. Nostalgia. Apalagi di kampung semangat kekeluargaannya masih terasa".
"Emang di kota tidak ada yang seperti itu?"
"Ada sih. Cuma serba semu. Interaksi yang terbangun didasari kepentingan dan pertimbangan untung rugi. Tolok ukurnya materi".
"Tapi tidak semua kan?"
"Ya. Cuma kebanyakan".
"Lagi pula gema takbir di kampung lebih terasa syahdu ketimbang di kota".
"Kok gitu? Di kota ada pawai ta'aruf, takbir keliling, festival beduk, dan lain-lainnya yang bernuansa syi'ar"
"Lihat aja pas malam takbiran. Lebih lantang mana, gema takbir atau dentum petasan dan meriam karbit?"
"Itu kan budaya".
"Budaya apa? Mubadzir? Pendidikan kekerasan? Merampot jak. Bagiku pawai ta'aruf dan festival lainnya tidak menyisakan apa-apa selain suka cita sesaat dan berhala dalam bentuk piala. Lihat aja, hilir mudik di jalan raya, lalu lalang mereka yang berduit terlihat berlomba menuju pusat-pusat perbelanjaan untuk beli pakaian baru dan makanan lebaran. Sementara nun di perempatan lampu merah adik-adik generasi kita dengan pakaian lusuhnya mengharap belas kasihan. Bahkan di pinggiran sana, sebagian orang yang juga saudara kita justru mengais, mencari makan dari sisa-sisa limbah lebaran kita". "Lebaran tanpa solidaritas".
"...............?"
"Di kampung, lahir batin kita hadir saling memberikan maaf. Di kota? Cukup diwakili kartu lebaran dan SMS".
"Tapi tidak semua kan?"
"Ya. Cuma kebanyakan".
"Apa aja persiapanmu mudik menyambut lebaran di kampung?"
"Persiapan apa? Tuh kan tolok ukurnya selalu materi".
"Siapa bilang? Situ aja yang suu zhan". Balasku.
"Aku hanya ingin lebaran kali ini lebih baik dari lebaran tahun-tahun sebelumnya. Harapanku, aku benar-benar mudik jiwa dan raga, lahir dan batin. Di sini aku banyak mengabaikan nasehat ibu-bapakku. Aku ingin minta maaf yang setulus-tulusnya kepada orang tuaku. Mudah-mudahan mudik kali ini sejalan dengan harapan kita untuk kembali ke fitrah".
"Kamu pandai bikin ketupat?"
"Pandailah. Emang kenapa?"
"Nanya jak. Kalau ndak pandai kan sulit nyarinya. Kalau di kota tinggal beli aja, di pasar banyak dijual".
"Itu bedanya kampung dengan kota. Produktif dengan konsumtif".
"Dulu aku juga punya kampung halaman. Tapi karena suatu musibah terpaksa hijrah ke kota". Kucoba alihkan persoalan.
Dia terdiam. Aku tahu, bahwa dia juga tahu apa yang pernah keluargaku alami beberapa tahun yang lalu sehingga harus keluar dari kampung halaman.
Lamunanku menerawang ke masa lalu saat lebaran di kampung. Jalan kaki dari rumah ke rumah sekedar untuk meminta ketulusan maaf dari saudara tetangga sekampung. Silaturahmi ke rumah guru ngaji dan guru-guru sekolahku. Lebaran terasa sangat syahdu dan bersahaja.
"Eh, setelah balik ke sini nanti main ke rumahlah. Minta jemput di mana, nanti kujemput. Minta antar pun nanti kuantar"
"Stop... stop."
Spontan tangan dan kakiku menekan rem. Kok tiba-tiba dia minta berhenti? Jangan jangan dia marah, karena aku mengungkit sisi gelap masa lalu. Atau karena tawaranku untuk berlebaran ke rumahku?
"Di sini saja, itu mobilnya". Tangannya menunjuk ke arah bis yang sedang menunggu penumpang.
"Thanks ya, Selamat lebaran. Maaf lahir batin". Sambil menyodorkan helm, tangannya mengajak bersalaman.
"Oh, ya. Sama-sama. Maaf lahir batin. Salam untuk keluargamu".
"InsyaAllah. Daa, Assalamu'alaikum..."
"Alaikum salam... si yu.."
Perlahan langkahnya mendekati, dan lantas masuk ke dalam bis. Diam-diam kuperhatikan dari belakang. Ada rasa yang tidak seperti biasanya menggelayuti perasaanku hari itu. Tawaranku agar dia berlebaran ke tempatku belum sempat dijawabnya. Jembatan tol wonosobo yang kuharap macet ternyata lancar-lancar saja.
Ingin rasanya kutawarkan jasa untuk mengantarnya sampai ke pelataran rumahnya. Tapi aku tidak yakin dia mau. Kelihatannya dia masih agak segan, bahkan basa-basi pun kelihatannya enggan sekedar mengajakku untuk berlebaran ke rumahnya. Dan aku mengerti itu. Sungguh
***
Malam yang dingin. Menyelinap sampai ke tulang sum-sum. Jam di tanganku menunjukkan 03.33. Dini hari.
Sudah 7 hari idul fitri berlalu. Bayangannya senantiasa hadir dalam lamunanku. Di kampung sana dia tentu sangat mesra dan syahdu bersama keluarganya seraya melantunkan gema takbir idul fitri.
"Perempuan seperti apa sih yang ada dalam imajinasimu?" Tanyanya suatu ketika.
"Salah satunya, perempuan yang dengan pertanyaannya mampu membuat aku berfikir". Jawabku spontan
"Jadi tak enak rasanya"
"Bukan tak enak. Tapi salah tingkah"
"Kenapa sih kamu suka membuat perasaan orang tidak enak?"
"Aku minta maaf, bukan maksudku membuat perasaanmu tidak enak".
"Ya, memang bukan maksudmu, tapi caramu menjawab pertanyaanku"
"Sekali lagi aku minta maaf. Menurut kaidah fiqh, kesalahan cara masih bisa dimaafkan asal bukan kesalahan maksud. Aku tak perlu menjelaskan maksudku itu. Cuma, aku bisa mengubahnya dalam bentuk kalimat tanya".
"Maksudmu?"
"Kenapa pertanyaanmu selalu membuat aku berfikir sebelum menjawabnya?"
Dia tertunduk diam. Sesekali kulihat raut mukanya yang menunjukkan perubahan rona. Aku pura-pura buka SMS di handphoneku. Dia masih terdiam. Sesekali nafasnya tertekan. Hhhh...
"Ndak perlu dijawab sekarang. Jawabannya bukan "karena". Tambahku kemudian.
"Tidak semua "kenapa" mesti dijawab "karena'". Bahkan diam pun bagiku bisa bermakna jawaban".
Sarungku yang hanya membungkus separoh badanku kali ini terasa sesekali agak gerah. Sisa kue lebaran yang ku kunyah terasa hambar. Bukan karena sarung dan makanannya, tapi jiwaku yang meronta ingin kembali pada suasana siang itu. Mungkin aku memang membuat perasaannya tidak enak. Tapi di sisinya kurasakan ketenangan tersendiri. Gemercik hujan di luar sana semakin mengingatkan aku pada siang itu. Pada wajahnya. Pada (pesona) jilbabnya.
Dentuman meriam karbit dari luar penjuru sana membuyarkan lamunanku. Segera kakiku bergegas menuju kamar mandi.
Sayup-sayup dari ruang komputer terdengar Padi "Menanti Sebuah Jawaban"
".....
Sepenuhnya aku
Ingin memelukmu
Mendekap penuh harapan
Tuk mencintaimu
Setulusnya aku
Akan terus menunggu
Menanti sebuah jawaban
Tuk memilikimu
....."
Ya. Aku tak bisa luluhkan hatimu. Bahkan menyebut namamu pun aku tak sanggup.
Allahuakbar wa lillahil-hamd ***
Read More

motivasi dalam belajar


“Kosong adalah Isi, Isi adalah Kosong”
“Makin banyak yang saya ketahui, Makin banyak yang Saya tidak tau” atau dalam bahasa Inggrisnya “The More I know, The More I dont know”
“Orang Sukses bukanlah melakukan sesuatu yang berbeda, mereka melakukan hal yang sama namun dengan cara yang berbeda”
Ada yang mau nambahin kata-kata motivasi biar campur aduk ? atau kata-kata mutiara lainnya? Kata bijak? Monggo…
Read More